Minggu, 09 Januari 2022

Berubah Fungsi, Bukit Suligi di Riau Kembali Ditanam Pohon


Tandun, KPH SBG-Hutan lindung Bukit Suligi telah berubah fungsi pada mayoritas area tutupannya. Wilayah kawasan konservasi di Kabupaten Kampar dan Rokan Hulu, Provinsi Riau tersebut kini dalam upaya pemulihan, setelah sekian lama mengalami perubahan peruntukan akibat penjarahan dan okupansi hingga berubah fungsi menjadi ladang dan perkebunan.

"Sampai saat ini hutan yang tersisa di Bukit Suligi paling hanya tersisa 15 persen. Lainnya telah berubah fungsi," kata Penyuluh Kehutanan Muda Unit Pelaksana Tugas Kesatuan Pengelolaan Hutan Suligi Batu Gajah DLHK Riau Mulyanto di Pekanbaru, Senin (10/1).

Untuk mengembalikan fungsi hutan, PT Perkebunan Nusantara V menggandeng mahasiswa pecinta alam, masyarakat, perangkat desa hingga Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) melakukan penghijauan kembali.

Sebanyak 5.000 bibit tanaman hutan dan buah-buahan disiapkan. Seluruh bibit beragam jenis tanaman keras mulai dari rambutan, durian, jambu, matoa, mangga, jeruk hingga kelengkeng ditanam serentak.

Bibit ditanam di sela-sela hutan yang rusak, serta di sekitar areal yang telah berubah fungsi menjadi kawasan perkebunan.

Pria paruh baya yang menghabiskan separuh usia untuk mengabdi sebagai penyuluh kehutanan itu mengatakan, program yang dilaksanakan anak usaha Holding Perkebunan Nusantara III Persero tersebut merupakan langkah jitu untuk mengembalikan kawasan hutan yang 'terluka parah'.

"Kita selaku aparat terus berusaha agar hutan lindung ini bisa kembali ke fungsi awalnya. Ini salah satu pola agroforestri yang didorong pemerintah dan Alhamdulillah dilaksanakan oleh PTPN V. Mudah-mudahan ini awal yang baik untuk kerja sama seterusnya," pintanya.

Bukit Suligi memiliki total luas mencapai 45 ribu hektare. Pesonanya membuat wisatawan selalu datang. Ada sejumlah air terjun indah dan pemandangan menakjubkan dari ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, yang dikenal sebagai bukit di atas awan. Kedua bentang alam itu begitu menakjubkan para wisatawan.

Chief Executive Officer PT Perkebunan Nusantara V, Jatmiko Santosa, mengatakan menjadi sebuah kehormatan bagi perusahaan untuk dapat terlibat langsung dalam pemulihan salah satu harta terpendam Riau tersebut.

"Kami sangat amat serius dalam hal keberlanjutan dan konsep green economy. Sebagai perusahaan milik negara, ini adalah bentuk nyata akan perhatian kita dalam merealisasikan kedua hal tersebut. Semoga langkah kecil kami menjadi awal dari sebuah program besar membawa kebaikan bersama dan mengembalikan fungsi Bukit Suligi," papar Jatmiko.

Sumber : merdeka.com

Senin, 04 Oktober 2021

INGIN JADI KPH PERCONTOHAN. INI YANG HARUS DILAKUKAN KPH SBG

 

Bangkinang, KPH SBG - Kepala UPT KPH Suligi Batu Gajah, meminta seluruh pegawai UPT KPH Suligi Batu Gajah agar bisa bersama-sama membangun KPH diantaranya dengan menyumbangkan saran dan pikiran-pikiran yang inovatif.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala KPH Suligi Batu Gajah, Dendy Saputra, SH. MSi dalam Rapat Bulanan dengan seluruh pegawai KPH Suligi Batu Gajah, di Aula Gaharu kantor UPT KPH Suligi Batu Gajah. Bangkinang, Senin (4/10/2021).

"Salah satu cara menjadikan UPT KPH Suligi Batu Gajah sebagai KPH percontohan, sangat diperlukan saran dan pemikiran inovatif serta strategi untuk pengembangan potensi-potensi yang ada di KPH kita, selain itu kita harus memahami Peraturan-peraturan terbaru bidang kehutanan karena terbitnya UUD cipta kerja. Sehingga perlu di pelajari dan dipahami oleh seluruh personil UPT KPH Suligi Batu Gajah.

Baca Juga: MENGINTIP KEINDAHAN GOA PUTRI RAMBUT EMAS

Dijelaskannya, KPH SBG mempunyai beberapa Jasling yang sangat bagus untuk dikelola dan dikembangkan, negara akan mendapatkan retribusi atau Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan perekonomian masyarakat disekitar juga akan terbantu.

"Strategi mendapatkan retribusi bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi hutan seperti Jasling, dan HHBK, serta memberdayakan masyarakat disekitar kawasan hutan. Semua komponen itu harus dikelola dan kita bina, hal ini merupakan modal awal yang sangat berharga bagi KPH", ungkapnya.

Lebih lanjut Kepala KPH SBG menyampaikan, untuk pengembangan potensi Jasling dan HHBK dimulai dengan membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) atau Perhutanan Sosial (PS), dan bekerjasama dengan Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah III Pekanbaru dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS HL) Indragiri Rokan.

Baca Juga: RPHJP UNIT XVI SULIGI KPH SULIGI BATU GAJAH

"KTH dan PS perlu kita bentuk untuk mengelola Jasling dan HHBK, agar kelembagaan pengelolanya jelas dan ada yang bertanggungjawab. Untuk mendapatkan bantuan dan pengembangan potensi kita bisa berkoordinasi dengan BPHP DAN BPDAS", pungkasnya.

Penulis : Taufik Hidayat, S.Hut
Editor : Nurfiani, SP, MM

Posting Populer